Apa Musuh dari Temanku Harus Kubenci juga?

Pernahkah kalian memiliki momen persahabatan seperti ini:

Saat sahabatmu, si A menceritakan kebenciannya terhadap C, ia berharap kamu juga ikut membenci C. Kamu ditempatkan pada pilihan, jika kamu berteman dengan C berarti kamu juga musuh si A. 

Ah, waktu sekolah dulu saya kebanyakan pada posisi si C. Dibenci tiba-tiba sama orang karena temannya orang itu tidak suka dengan saya. Yes, kecepatan permusuhan itu tidak selambat kecepatan moveon kamu sama mantan.

Saya mengerti betapa tidak menyenangkannya berada di posisi ini. Jika saya memiliki musuh karena masalah diantara kami berdua, itu adalah fair. Namun jika musuh yang lahir karena doktrin orang yang membenci kita, rasanya itu tidak fair.

Tidak seperti laki-laki yang mostly menyampaikan kekesalannya secara langsung dan cenderung menggunakan kekerasan fisik, para perempuan lebih kepada sikap dingin berlebihan, menyakitkan hati dan berlangsung dalam kurun waktu yang lebih lama. But me, beranggapan selama perkataannya tidak membuat jantung saya copot, saya anggap angin lalu.

Disisi lain, ketika saya tidak menyukai seseorang, saya cenderung menyimpannya untuk diri sendiri. Pun kalau saya menceritakannya pada orang yang dianggap bisa dipercaya, saya serahkan penilaian dia untuk orang tersebut. Capek amat hati ini jika melarang-larang teman untuk berteman dengan siapa saja.

Saya pernah, karena hal sepele, bermusuhan dengan salah satu anggota geng(grup/teman sekelompok). Kami tidak berbicara satu sama lain dalam waktu yang lama. Tapi teman yang lain yang juga di dalam geng itu tidak ada yang menyadari perubahan kami. Tidak ada saling mengajak satu sama lain untuk memusuhi. Mereka baru ngeh ketika saya sendiri yang bilang. Dan mereka justru malah berusaha mempersatukan kembali, bukan malah mengkotak-kotakan persahabatan yang sudah ada.

Fine. Perjalanan waktu membawa pada fase dewasa. Dalam cakupan yang lebih luas lagi, hidup bermasyarakat, hidup bermedia. Media mengkotak-kotakan kita seolah siapa yang mereka benci, juga harus kita benci. Sebaliknya, siapa yang mereka cintai, harus juga kita cintai. Di media sosial juga begitu, orang yang di dunia nyata begitu menyenangkan, kok di sosial media saling mengkafirkan sesama agama. Sejak runtuhnya rezim otoriter, kita sudah beralih ke demokrasi. Dimana kita harus bersiap menghadapi perbedaan, dengan meminimalisir perpecahan.

Untungnya saya tumbuh dengan terbiasa dianggap “kafir” oleh golongan sendiri. Jadi tahu betapa tidak menyenangkannya kalimat itu. Kalau ibarat Harry Potter, itu tuh kayak ngatain Hermione sebagai mud blood. 

Sama halnya seperti cinta, kebencian juga dapat diwarisi. Hanya saja, kebencian lebih cepat menularnya. Jangan melihat gajah hanya dari ekornya, kupingnya, belalainya saja. Tapi coba lihat secara keseluruhan. Mungkin saja semua temanmu itu benar. Mereka memperjuangkan hal yang patut diperjuangkan sebagaimana demokrasi mempersilahkannya. Jika memang masih ingin membenci, putuskanlah rantai kebenciannya di diri Anda sendiri. Jangan paksa teman, sahabat, murid, anak Anda agar ikut membenci dengan ataupun tanpa informasi yang valid.

Kecuali kecoa dan belalang! Wajib dibenci sampai titik Baygon terakhir!!! Hoho
Salam lincah damai. Adek lelah bertengkar,bang.

Nb: untuk elo elo sahabat gue SD, SMP,SMA, KULIAH, dimanapun elo berada yah! I miss yu all guys..

Advertisements

About desisonia

as like as mirror pahamin bahwa smw org punya masa PASANG-SURUTnya. ada kalanya compang-camping, ada kalanya flamboyan. Tgantung kita bsa nerima keadaan yg spt ap... View all posts by desisonia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: