Orang Baik: Sekali Salah, Langsung Kartu Merah!

Satu hal yang saya takutkan ketika memutuskan untuk mendedikasikan diri sebagai IRT (idk would it be temporary or permanent),  adalah tingginya frekuensi berdialog dengan diri sendiri. Lagi boboin anak,mikir. Lagi jemur, mikir, nyuci piring, mikir lagi.. Akhirnya daripada beku di otak nanti tambah gila, lebih baik jadi postingan di blog saja.

Okay, kali ini judulnya merupakan kalimat yang pernah terlontar dari teman saya. Lupa siapa dan kapan, tapi tercatat begitu saja di memori.

Melihat fenomena di TV saat ini, sepertinya figur tokoh-tokoh baik  – atau yang mencitrakan dirinya baik – sedang dibombardir dengan pemberitaan yang menyatakan dirinya sebaliknya. Saya tidak mau sebut nama, tapi pasti yang sering nonton infotainment atau subscribe akun gosip tahu. Beberapa tokoh agama, motivator idola yang notabene selama ini tercitrakan sebagai orang baik-baik, suri tauladan, kata-katanya menenangkan,  bahkan salah satu dari mereka menjadi judul di postingan blog ini jauh sebelumnya kini aibnya terkuak lalu dihujat habis-habisan. Setiap lini kehidupannya dicabik (bukan lagi dikonsumsi) oleh jempol haters yang tidak berpikir panjang. 

Benar kata AA Gym yang juga pernah surut di televisi karena poligami;

“Mereka typical masyarakat yang mudah terpesona. Padahal kita dipercaya berbicara disini hanya karena Allah menutupi aib-aib kita.”

Seandainya aib kita sendiri terkuak, mungkin kita pun tak berani keluar kamar. Ya kan? 

Menceramahi itu bukan berarti penceramah itu sendiri tak pernah salah.

Memotivasi bukan berarti dirinya tak pernah berada dalam kondisi butuh pencerahan.

Berpenampilan alim bukan berarti dia tidak mungkin akan jatuh ke lembah maksiat.

Saling mengingatkan bukan berarti dia sendiri tidak pelupa.

Munafikkah? Atau memang di dunia ini tidak ada orang baik, yang ada hanya manusia yang bertahan untuk tidak jahat (?)

C’mon, dear.. Mereka juga bukan Nabi/Rasul. Lagipula setan ini memang sudah ditugaskan menggoda manusia hingga akhir zaman. Setiap minggu setan itu kejar target dan meraih omset. 

Bukan hak kita untuk melempar kartu merah kepada orang yang (at least) pernah memberikan manfaat, dan malah menjadi sumber uang bagi orang yang jelas-jelas bangga akan keburukan dirinya dengan menjadi penonton setia.

Terlepas dari public figure (atau siapa saja yang tadinya kita anggap baik) itu benar / salah, camkan ini..

Dia memang tidak suci,

Tapi kita juga penuh dosyah.

Jangan sampai malah dosyah kita yang terkuak,terus dilempar kartu merah. Lalu disuruh HUSHH HUSHH dari lapangan.

Gituh.

Salam lincah.

—–

Advertisements

About desisonia

as like as mirror pahamin bahwa smw org punya masa PASANG-SURUTnya. ada kalanya compang-camping, ada kalanya flamboyan. Tgantung kita bsa nerima keadaan yg spt ap... View all posts by desisonia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: