The Escalator and The Stair

Ketika kita memulai untuk belajar, ikhlaskanlah diri ini untuk kosong. Istilah gelas kosong lebih mudah untuk diisi, itu adalah tepat. Seseorang yang gelasnya sudah penuh, tidak mau lagi menampung pembelajaran lainnya karena takut tumpah. Masalahnya, “penuh”nya dia apakah memang pendapat orang lain, ataukah perasaan diri sendiri saja?

Maka dalam membaca blog ini, jauhkan rasa “Ah, itu mah saya juga ngerti, ga penting.” Padahal kalimat itu hanya bagian dari rasa gengsi. C’mon, kita bisa belajar dari mana saja dan siapa saja.

Saya sering sekali mendengar impian mahasiswa yang ingin ke Eropa, gratis, dapat beasiswa, dapat uang bulanan, bisa kerja part time lagi! Yah, tidak ada yang salah dengan harapan itu. Mimpi haruslah target tertinggi. Jadi, jika tidak sampai menembak bulan, paling tidak kan kena bintang yang dekat bulan. (Faham,kan?)

Yang jadi masalah adalah ketika ada kesempatan untuk menembak bintang yang mudah meski agak jauh dari bulan, dia “emoh” duluan. Menimbang hal tersebut tidak sesuai dengan capaian gengsi dan targetannya. Padahal, bintang itu mungkin saja adalah “Halma efek” yang harus dia lewati. Taukan permainan halma? Membuka satu dulu untuk mudah melangkahi lawan satu demi satu.

Misalnya, ada kesempatan kuliah di ASEAN, ngotot ingin mengejar Eropa. Belum menganggap penting tetangga2nya. Padahal kesempatan kuliah di ASEAN lebih mudah. Dan proses yang telah didapatkan di satu negara sudah bisa memotivasi dan memperkuat kesempatan untuk kuliah lagi di Eropa.

Masalah lainnya adalah kemampuannya. Bahasa, akademik, dll. Mimpi Eropanya tadi tidak didukung oleh komitmen dan usaha yang mendorongnya ke arah sana. Belajar bahasa, engga, latihan males, ngembangin skill kagak. Kuliah kerjanya main hape – pacaran – hangout. Jadi bulan impian dia tadi hanya berakhir di punuk onta saja. (Apasih -,-)

Seperti judul diatas, anak muda sudah ga aneh lagi kalau berbondong-bondong rebutan ngantri sampe sikut2an naik melalui eskalator. Padahal disampingnya ada tangga luas yang lapang. Naik tangga memang lelah dan susah, tapi justru menjadikan kita lebih humble dan menghargai proses.

Beberapa manusia memang diberkahi eskalator dari lahirnya yang – dia ga mimpi aja udah jadi kenyataan- tapi jangan laju dilatahi mentah2. Masak semuanya jadi pengen shortcut. Remember, setiap anak muda memiliki cerita yang berbeda-beda.

Dan mumpung muda, bersenang-senanglah. Tapi pastikan senangmu itu tidak akan berujung pada kesusahan.

Thank you. Salam lincah 🙂

Advertisements

About desisonia

as like as mirror pahamin bahwa smw org punya masa PASANG-SURUTnya. ada kalanya compang-camping, ada kalanya flamboyan. Tgantung kita bsa nerima keadaan yg spt ap... View all posts by desisonia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: