Jangan Cintai Aku Apa Adanya

Jangan cintai aku apa adanya, jangan.

Tuntutlah sesuatu, biar kita jalan ke depan…

by: Tulus

***

“Sebelum melamar istri saya dulu, saya mengajukan persyaratan.. Bisakah kamu melahirkan anak-anak yang TOEFLnya 600?” ujar seorang lelaki. Beliau adalah tokoh pejabat pendidikan yang kini ketiga anaknya memiliki TOEFL diatas 600 dan menempuh pendidikan internasional.

“Sebelum melamar istri saya dulu, saya mengajukan persyaratan.. Mampukah kamu memberikan ASI eklusif untuk anak-anak kita?” ujar  lelaki yang lain. Beliau adalah motivator yang selalu konsisten mengantar jemput istrinya yang bekerja demi mengantar ASI pada anaknya yang berada di rumah disela-sela padatnya jam kerja sang ayah.

Menikah, bukanlah sekadar materi hari ini yang kamu pertimbangkan. Dia mapan, alhamdulillah.

Dia belum mapan, monggo berjuang bersama.

Tapi kearah mana dan dengan cara apa kamu akan menempuhnya? Kamu harus tahu.

Prasyarat pernikahan itu penting. Terutama yang dampaknya pada anak. Kamu kan harus memastikan bahwa keturunanmu mendapatkan finansial, pendidikan IQ dan EQ yang baik toh?

Pilihlah ia yang tidak menuntutmu untuk mencintai ia apa adanya. Yakinlah yang seperti itu menjadikan tidak adanya pembaruan di hidupmu. Kalaupun kamu mendesak menginginkannya, maka kamu akan dianggap membangkang, padahal baik bagi keluarganya kelak. “Yah.. Lelaki itu Ego nya tinggi, Nia..” saran seorang tante dulu.

Jangan cari yang “Let it flow”.

Selow, tapi Gerow. (Slow but Grow)  <maksa>

Carilah yang menuntutmu sesuatu yang positif. Soal akademik, kesehatan, ataupun agama. Urusan hasil akhir terserah Yang Maha Kuasa. Bukan berarti kita ingin mencekoki anak seperti apa yang dambakan, tetapi sebagai ayah dan ibu, marilah bersama-sama berusaha ke arah sana.

Carilah yang menyuruhmu berjanji hal yang baik, bukan dia yang kamu paksa terus menerus untuk berubah menjadi “baik versi kamu”. Tahukan teorinya? Cowok doyan nebar janji, cewek hobi nagihin janji.

Jadi kamu tak perlu bersusah payah meluruskan persepsi. Karena “menerima apa adanya” muncul kalau bukan karena “cinta mati”, ya “keterpaksaan”.

Yang terpenting carilah yang masih single dan pastikan jawaban YA dari :

“Kamu sanggup gak mencintai aku sebagai satu-satunya?”

Eh, kenapa? Itu juga prasyarat loh!

***

#GoesTo #IndonesiaStrongFromHome

Advertisements

About desisonia

as like as mirror pahamin bahwa smw org punya masa PASANG-SURUTnya. ada kalanya compang-camping, ada kalanya flamboyan. Tgantung kita bsa nerima keadaan yg spt ap... View all posts by desisonia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: