Sekali seumur hidup

dulu, waktu masih jadi rekan kerja, ternyata dia TTN (temen tapi ngarep) ahaha

dulu, waktu masih jadi rekan kerja, ternyata dia TTN (temen tapi ngarep) ahaha

“Kira-kira, siapa yang akan meninggal duluan?”
Pertanyaan itu pernah kulontarkan sekali waktu. Akupun tidak menyangka tiba waktunya untuk menanyakannya.
Padahal dulu, ketika masa pendekatan, tidak terpikir sama sekali tentang hal itu. Yang terbesit hanyalah hal-hal manis tentang memiliki rumah idaman dan anak-anak yang manis dan lucu. Pernikahan telah mengubah segalanya.

Selagi momen ijab kabul dulu, aku seperti masih belum sadar bahwa aku sudah menjadi istri seseorang.
“Udah nih? Jadi jodoh gue itu elu?” pikirku dulu. Terus bagaimana selanjutnya? Apa yang akan terjadi? Apa yang harus aku lakukan juga belum terpikir jelas. Yang jelas aku bersiap, karena hari-hari akan menjadi lebih berat.

Aku harus menyesuaikan diri denganmu, yang rupanya penyesuaian itu tidak semudah mengetik Pe-nye-su-ai-an. Kadang sampai butuh air mata untuk kemudian bangkit lagi dan kembali menjalani kenyataan.
Bahwa menikah hanya sekali.

Tapi dibalik itu…
Aku melihat kesungguhanmu untuk membahagiakanku dalam setiap humor yang kau buat.
Aku melihat kesabaranmu menghadapi kemanjaanku saat aku malas membuatkan makanan untukmu.
Aku melihat kesetiaanmu saat aku sakit dan kamu merawatku tanpa rasa jijik.
Dan aku melihat… kesalahanku sendiri.
Kesalahan untuk belum menghargaimu, belum patuh padamu, dan masih berkata kasar padahal -sejak ijab kabul-kamulah indukku sekarang.

Lalu aku kembali terang. Terlebih melihat senyum yang hadir dari bibir mungil anak kita. Terlebih saat kamu berjuang untuk membahagiakan aku dan dia dengan berbagai cara.
Dan aku masih luput untuk berterimakasih.

Entah kenapa aku berubah jadi monster neneknenek aleman dan cerewet.
Dan kamu jadi manusia purba cuek yang hilang arah.
Jauh berbeda dari pendekatan.

Aku tahu kamu benci kata-kata, tapi inilah caraku untuk mengingat tentang (hampir) setahun yang tidak mudah tapi berhasil kita lewati.

Tentang pertanyaanku tadi, kamu jawab kamu ingin kamu yang lebih dulu pergi, kamu bilang takkan mampu menjadi ‘yang ditinggalkan’. Tapi kita sama-sama tak tahu kedepan dan tidak ingin mendahului Tuhan.

Aku tahu ini klise, tapi aku selalu kesal bila bunyi motor yang kukira milikkmu ternyata bukan.
Aku selalu menantimu. Meski dengan marah karena kamu terlalu lama diluar.
Karna aku sayang. Sayang sekali. Dengan bapaknya anak-anak ini.

Terimakasih, aa oga. Kita berjuang lagi ya ditahun2 selanjutnya.
Love you.
Happy anniversary.

Advertisements

About desisonia

as like as mirror pahamin bahwa smw org punya masa PASANG-SURUTnya. ada kalanya compang-camping, ada kalanya flamboyan. Tgantung kita bsa nerima keadaan yg spt ap... View all posts by desisonia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: