Boga Oyot

BOGA OYOT. Begitulah tampak tulisan stiker di bagian belakang motor bebek merek Honda kakekku. Saat pertama2 beliau menempelkannya, aku bertanya apa makna kata tersebut.

“Kepunyaan uyut. Bahasa Sunda ituu..” jawabnya.

Lumayan lama motor tersebut menemani kakek. Aku ingat. Saat aku melihat hasil test ujian masuk di Smanda 2006 lalu, aku diantar kakek dan sama sama tersenyum dibuat pengumuman tersebut. Selanjutnya hampir setiap pulang sekolah atau les, kakek menjemputku. Hingga ketika aku mendapat reward berupa jaket hujan dari tempat bimbel, aku berikan pada kakek. Aku yakin kakek lebih membutuhkannya daripada papah. Terbukti, Jaket itu dipakainya terus meski sablon logo bimbel di bagian punggungnya luntur.

Itu untukku.

Untuk kebanyakkan orang, ia adalah tukang ojek yang biasa mangkal di pasar way halim. (Kesulitan finansial yg memang tak dapat dipelak lagipula itu rezeki halal, aku tak malu untuk mengakuinya, justru bangga karena kakek terbilang masih lincah dan bugar diusianya yang sudah 70an).

Oke. Kembali ke yang tadi. Orang2 kerap memanggil kakek “Pak Haji”, mungkin karena orang2 melihat tampilan kakek yang selalu berpeci dan fasih berbicara agama ditambah lagi janggut putih panjang yang kusut menjuntai dibawah dagunya. Padahal sebenarnya.. ya. Kakek memang pernah naik haji.

Lalu bagi sebagian yang lain, kakek adalah imam dan penceramah.

Seringkali beliau diminta untuk menjadi imam di tempat yang jauh2. Meskipun uzur, kakek tetap kuat. Lebih kuat dari yang muda malah. Kakek pernah membawa nenek dimotornya ke bogor. Romantis ya…

Hingga pada malam Sabtu diawal Ramadhan ini, kakek mengajak nenek ke masjid. Seusai menjadi imam tarawih, sekitar jam 9 malam mereka hendak kembali pulang kerumah.

Siapa sangka,kalau saat itu boga oyot hendak celaka. Sebuah motor besar dari arah berlawanan menembus lampu merah dan menghantam keras mereka berdua.

Kaki, lutut dan tangan Kakek patah. Darah mengucur dari kepalanya. Nenek luka ringan dan memar di beberapa bagian badannya.

Kini, kakek dan motor boga oyotnya memang telah kembali kerumah. Bedanya, motor masih bisa mulus lagi setelah ke bengkel.

Kakek dalam perawatannya disini. Dengan masih menyimpan trauma untuk naik motor lagi.

“Kalau udah keluar nanti, motornya jual ajalah” ujar tanteku menirukan ucapan kakek ketika di rumah sakit.

huff…………

Uyut……….

Terngiang betapa besar kasih sayang kakek untuk mendukung masa masa mengenyam pendidikan. Terngiang saat aku melangkah keluar dari gerbang, kakek duduk di atas motor sembari menyetel lagu dangdut atau lawas dihapenya. Saat mengklakson orang dengan penjepit barang yang terdapat di leher motor sampai yang berpapasan menengok semua.

Ya, recall memori memang memerlukan peristiwa khusus.

Semoga Ramadhan ini, bisa menjadi peluruh dosa2 kakek dalam sakitnya.

Cepet sembuh uyutnya kian, we are all lovin u.

Advertisements

About desisonia

as like as mirror pahamin bahwa smw org punya masa PASANG-SURUTnya. ada kalanya compang-camping, ada kalanya flamboyan. Tgantung kita bsa nerima keadaan yg spt ap... View all posts by desisonia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: