Ini tentang apa ya? Entahlah..

Aku teringat percakapan semalam di ruang keluarga. Disana ada ayah, ibu, kakek, dan suami. Setelah bercakap-cakap dari ujung ke ujung sampailah pada pembicaraan soal ikan arwana. Suamiku yang dikeluarganya pernah memelihara ikan arwana. Ayahnya sangat sayang dengan peliharaannya yang warnanya bagus itu. Hingga suatu saat ikan itu ditawar orang dengan harga puluhan juta, tetapi tidak dikasih. Tiba-tiba setelah peristiwa itu, ikan tersebut lompat dari akuarium dan mati begitu saja. Tentu sangat disayangkan. Selain karena biaya pemeliharaannya yang tinggi, uang puluhan juta yang seharusnya sudah ditangan pun melayang. Menyesal sekali..

Dalam percakapan itu, kakek menimpali dengan pengalaman yang hampir serupa. Beliau pernah memelihara ayam yang begitu gemuk dan gagah, ditawar tinggi oleh orang lain namun ditolak. Sehari kemudian kakek kemalingan ayam tersebut,

Kini giliran papah alias ayahku yang berkicau. “Mitosnya.. kalau kepunyaan kita udah ditawar orang itu, harus segera dikasih. Kalo gak nti malah kenapa-napa. Apalagi orang yang nawar keliatan udah serius banget, mungkin itu tanda bahwa akan ada orang lain yang menjaga barang tersebut lebih baik dari kita.”

Akupun terdiam. Sejenak aku menganalogikan diriku dengan arwana itu. Mungkin itulah juga yang ada di benak papah saat seorang pria memberanikan diri untuk melamarku.Mungkin.. ya, hanya mungkin, aku menduga papah berharap agar suamiku dapat menjagaku, mendidikku, menjadikanku lebih baik dari dirinya.

Seorang ayah, pastilah mencintai putrinya, melindunginya dari pria jahat, jauh lebih mencintai putrinya daripada barang-barang kesukaannya. Namun ketika seorang pria datang untuk mengambil putrinya, ia harus ikhlas untuk melepaskan. Terutama jika pria itu begitu serius untuk mencintai putrinya. Jika tidak ia restui, mungkin malah sesuatu yang buruk akan terjadi pada putrinya. Mungkin…. Entah benar atau tidak.

Saat ijab kabulku dulu, dibandingkan mamah, papah lebih tersedu-sedu. Aku yakin tenggorokkannya sudah sakit menahan nafas agar tidak menangis lebih hebat. Kulihat matanya yang keriput memerah saat bagian bersalam-salaman sambil bershalawat Nabi.

Ya… Aku bukan menyamakan dengan ikan arwana, tetapi yah.. hanya berimajinasi saja. Mungkin salah, tapi apa salahnya dipikir.. Semoga harapan papah tentang menantu yang baik itu menjadi kenyataan #kode.

Itu aja deh kali ini yang di share.. 😀

Sampai jumpa di kelincahan berikutnya ! SEE YOU VERY SOON !!

Advertisements

About desisonia

as like as mirror pahamin bahwa smw org punya masa PASANG-SURUTnya. ada kalanya compang-camping, ada kalanya flamboyan. Tgantung kita bsa nerima keadaan yg spt ap... View all posts by desisonia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: