Oh…

Oh, papa. Inikah yang kalian selalu perbincangkan dihadapan kami?

Engkau mencereweti kami dengan banyak hal untuk mempersiapkan hari esok.

Sekarangkah hari esok itu?

Ternyata ga mudah ya menjadi orang dewasa itu. Sama sekali bukan main-main.

Sungguh berbeda dengan keceriaan persahabatan dan kehangatan perasaan cinta monyet di sela-sela kewajiban belajar yang aku jalani.

Kalian seringkali bilang STRESS, seperti ingin bunuh diri, kabur, menghilang, menyerah dan kata-kata pesimistis.

Aku hanya berpikir betapa tidak bersyukurnya kalian, karna jika kalian semangat maka cobaan akan mudah dilalui.

Ternyata tidak semudah itu.

Dan kalian sudah tahu lebih awal.

Rasanya benar-benar sakit, lemas, tak berdaya ditekan oleh permasalahan, cara-cara bermain kotor mereka, mau tak mau menghisap keangkuhan dan otoritas orang dewasa.

Oh, ini rasanya beban itu….

Oh…………………………………………………………..

Ingin berlari dari jeratan, tapi tidak bisa. Ingin berakhir, tapi takut. Begitulah.

Tantangan yang bukan sekadar melewati Ujian Nasional, Skripsi ataupun tes psikotes. Bukan momok seperti itu.

Salah kita mengambil pilihan, lalu kita terjebak dan selamanya dalam ketidakikhlasan menerima kebodohan diri sendiri. Penyesalan. Itu adalah hal yang tak ingin didengar oleh siapapun.

Ingin bercerita, kadang tak punya waktu. Ingin menangis, kadang malu.

Inikah yang mama sebut, “kalau bukan karena iman, mungkin dari dulu sudah menyerah.” ?

Sampai sekarang aku masih di ketiak kedua orangtua, padahal aku belum pernah merantau.. tapi aku sudah merasa berat.

Beban tanggung jawab dipundak ini ada 3, dan akan bertambah lagi karena keputusanku sendiri.

Jujur kadang aku ingin melangkahkan kaki keluar rumah dalam waktu yang lama. Kadang datang egoku saat kalian menceramahiku seolah aku anak yang super berandal dan pembawa sial.

Tapi tidak, aku sudah cukup tidak peduli selama ini pada kalian. Aku tidak sanggup keluar dalam keadaan aku masih tidak peduli.

Aku ingin melihat kalian cukup. Aku ingin melihat kalian makan enak, pakaian bagus, rumah yang nyaman dengan hasil jerih payahku sendiri.

Itu seharusnya jadi kewajibanku sebagai sulung.

Aku ingin menangis ketika aku sadar aku luput dari itu semua.

Aku hanya ingin membuat diri sendiri bahagia.

Maafkan aku,

Ternyata hidup ini berat.

Mungkin aku akan lebih sering menangis dari sekarang.

Mungkin aku akan lebih sering meminta tolong.

Mungkin aku akan lupa cara bersenang-senang dengan wajar…

…ya dengan bertemu kalian.

Advertisements

About desisonia

as like as mirror pahamin bahwa smw org punya masa PASANG-SURUTnya. ada kalanya compang-camping, ada kalanya flamboyan. Tgantung kita bsa nerima keadaan yg spt ap... View all posts by desisonia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: