“Taro di panti jompo ajalah…”

Sekarang kita berandai-andai, bila kita melontarkan kata-kata tersebut ke kolega kita yang sudah lansia. Dikarenakan kita tidak ingin repot untuk mengurus masa tua mereka.

Tapi coba kita berandai-andai.. Kehidupan 40 tahun lagi, InsyaAllah. Aamiin.

*masuk ke time machine*
*rambut memutih*
*kulit mengeriput*
*gigi gemeretak*
*persendian mulai terasa ngilu*
*pandangan mulai kabur*

Oke. Anda sudah berdiri di zona 40 tahun selanjutnya.

image

Tiba-tiba Anda berada diposisi dimana Anda dilontarkan kata-kata seperti judul, oleh anak atau menantu atau bahkan cucu.
Sakit bukan?

Ketika bukan Anda, tapi waktulah yang mengurangi nikmat demi nikmat yang Anda punya.

Namun tanpa disadari, Anda juga menjadi paling merasa benar. Tidak mau mendengar pendapat yang lebih muda. Paling egois, paling merepotkan dan memberatkan.

Alih-alih berpelukan dengan cucu, Anda malah disingkirkan seperti lalat – yang bila terlihat – mereka langsung bergidik.

Kesepian.
Menahan sakit karena menua.
Ditambah lagi jadi bahan omongan.

“Taro di panti jompo ajalah…”ujar menantu Anda yang sudah tak sabar ingin mengusir.

Berteman dengan mereka yang sama-sama menua mungkin menyenangkan. Tapi melihat anak-cucu merawatmu seperti kau dulu merawat mereka itu, lebih menyenangkan,kan?

Mata renta Anda menatap keluar jendela.
Membayangkan apa hal yang sama juga terjadi pada teman-teman Anda yang tersisa, setelah satu persatu mulai kembali ke sisi Tuhan.

Daya ingatmu yang tinggal sedikit itupun me-recall tentang diri Anda di masa muda.
Yang mengagung-agungkan harta.
Yang menumpuk kekayaan. Lewat jalan yang banyak tidak benar.
Dan meninggalkan anakmu terlalu lama.
Sampai ia lupa aroma tubuhmu.
Sampai ia tega menghambur-hamburkan hartamu.
Sampai anakmu rusak dirinya sendiri lewat uang yang kamu beri. Lalu ia memilih pasangan (kini jadi menantumu) yang sama hambur-hamburnya.
Setiap hari meributkan warisan didepanmu – yang jelas2 masih ada.

“Aku tidak sungguh-sungguh membesarkannnya. Aku pikir apa yang ku lakukan selama ini sudah cukup..” ujarmu dalam hati.

Anda menitikkan air mata.
Seolah lupa bahwa ini hanya time machine yang Anda jelajahi.

Ya. Time machine.
Yang tak akan berubah bila kamu tak kuasa mengubah rel mu 40tahun lampau.

Seberapa kuatpun kamu berusaha,
Mereka takkan membersihkan kotoranmu di tempat tidur.
Takkan memapahmu bertemu cucu.
Takkan menyuapimu perlahan.
Takkan menghormati nasehatmu.
Takkan mencium kening keriputmu.
Kecuali tulus, yang kau beri pada mereka.

image

“Nenek….?” ujar cucumu. Kamu tak menoleh karena tak mendengar. Lalu ia berjongkok dihadapanmu, memainkan sebuah benda yang kau kenal.
“Nek, ini tombol apa? Aku mainin ya..”
Kamu melihat ke tangan mungilnya dan tersentak.
“TOMBOL TIME MACHINE!!”

Advertisements

About desisonia

as like as mirror pahamin bahwa smw org punya masa PASANG-SURUTnya. ada kalanya compang-camping, ada kalanya flamboyan. Tgantung kita bsa nerima keadaan yg spt ap... View all posts by desisonia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: