Teguran itu muncul lagi

Hari itu aku dan yoga, rekan sekaligus sahabatku, dikejar-kejar waktu oleh sejumlah deadline. Namun seperti biasa, aku selalu mencari titik konyol dari situasi segenting itu, supaya aku tidak cepat mengeluh dan stress. Kami tertawa terpingkal-pingkal akan bahan imajinasi kami sendiri.

Malam itu, kami lewatkan maghrib tanpa hiraukan adzan, apalagi sholat. Sibuk, nanti saja. Itu pikirku. Bodoh memang… Tanpa aku sadari, disaat yang sama, seseorang berdoa supaya aku tidak melupakan Mu. Tulus sekali.. Berdoa akan kepasrahannya menyuruhku untuk menjadi seorang yang lembut dan penurut. Orang itu tak lain adalah ibuku.

Aku dan Yoga berhenti di sebuah warung makan dekat rumah. Hanya dia yang makan. Lambungku terasa sakit, jadi aku hanya minum air hangat.

Disaat itulah Tuhan memberiku teguran yang telah belasan tahun tidak diperlihatkanNya. Aku merasakan gelisah itu lagi. Pandanganku kabur. Apa yang ada di hadapanku; yoga, tukang parkir, mbak kasir, koki, semua rasanya seperti hologram. Otak seperti tiba-tiba dingin. Jantung berdebar kencang. Leher bagian kepala belakang merinding. Dan kalimat yang ada di otakku hanya: inget mati, desi. Inget dosa, desi.
Dan seperti sebuah film, roll memori akan dosa-dosa itu hadir di pandangan. Mereka seperti menyerbuku dengan rentetan perasaan bersalah. Aku baru sadar.

Allah…. Terjadi lagi… Aku sudah keterlaluan melupakanmu….

Aku meminta yoga untuk bergegas meski jus alpukatnya belum juga habis.
Yang ada dipikiranku adalah mama.
Yang bisa mengerti keadaanku adalah mama.
Aku ingin menangis sejadi-jadinya.

Aku pulang kerumah. Mama dan papa sedang menonton TV. Aku lewat di depan mama seraya bilang, “mah, kok nia mulai gelisah lagi ya?” ujarku sambil hampir menangis. “Mama ke kamar nia sihh..”,tambahku.

Mama langsung bergerak cepat. Kepalaku langsung mendarat di pangkuan mama. Mama mengelus kepalaku.
“Gak tau, mah.. Penyakit dulu kumat lagi.. Nia gak tau mungkin ada salah dengan orang lain. Sampe dikasih teguran segininya.”ujarku sambil terisak.

Aku yakin. Mereka yang belum pernah merasakan gelisah yang aku maksud ini pasti akan bingung. Akupun mendeskripsikan gejala ini bingung. Penyakit apa yang membuat berhalusinasi akan dosa-dosa, kematian, dan rasa sayang Tuhan? Itu halusinasi kah? Aku rasa itu wujud ternyata yang Allah beri kesempatan aku untuk rasakan.

“Nia ini belakangan suka ninggalin solat. Tadi solat magrib ga?” mama bertanya padaku.

“Tinggal. Nia lagi ngurusin tugas,ma…”

Aku gemetar. Rasanya belum sanggup kalau apa yang hadir di otakku itu jadi kenyataan. Sosok orang-orang yang ku sayangi hadir untuk kujadikan alasan kepada Tuhan, bahwa aku masih ingin membahagiakan mereka. Sebaliknya, sosok yang tersakiti olehku juga hadir, menjadi alasan untuk ku minta agar Tuhan membiarkanku meminta maaf dan membuktikan tulusnya maafku untuk mereka.

“Kenapa bukan koruptor yang jelas-jelas bersalah si yang dikasih ‘beginian’,ma?” tanyaku. Masih dengan jantung degdegan dan nafas yang terengah-engah.

“Itu tandanya Tuhan masih sayang sama nia. Tuhan membiarkan mereka melakukan dosa tanpa memperingatinya. Terus terang sikap nia belakangan ini bikin mama pasrah. Akhirnya mama minta Allah aja yang negor. Tapi Ya Allah, jangan yang berat2. Kasih saja teguran yang bisa mengetuk hatinya… Yah, mungkin caranya dengan begini lagi..”

Masih panjang perjalanan cerita malam tadi sebenarnya. Ketakutan dan kekhawatiran yang menyerang panca indera, otak dan seluruh badan seperti yang kualami ketika kecil sampai SMP.

Aku tidak tahu apakah ada yang merasakan gejala psikis tiba2 yang sama seperti aku dan mamah.
At least, kumohon dengan postingan ini, jangan anggap aku aneh atau apa. Ini aku tulis agar perasaanku jadi lebih lega, dan mengingatkanku bila suatu saat aku hendak membuat kesalahan yang menyebabkan aku..’ditegur lagi’.

Advertisements

About desisonia

as like as mirror pahamin bahwa smw org punya masa PASANG-SURUTnya. ada kalanya compang-camping, ada kalanya flamboyan. Tgantung kita bsa nerima keadaan yg spt ap... View all posts by desisonia

2 responses to “Teguran itu muncul lagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: