Mendayung Sama-Sama ?

Terinspirasi dari obrolan singkat bersama teman-teman di gedung B Fisip lalu, aku tertarik untuk  membuat postingan tentang pernikahan. Ya, sebuah hal yang bagi kebanyakan manusia adalah sakral ini sudah boleh kami bicarakan. Aku sendiri tidak menyangka pada akhirnya aku akan membahas topik ini disebuah forum kecil. Karena memang aku, Insya Allah, dalam hitungan tahun, akan menjalaninya dengan pasangan yang telah dipilihkan Tuhan. Amin.

Ketika salah satu temanku yang laki-laki berkata,

“Iya ya, kita ini udah umur 21 yah? Bentar lagi lah ya kalian yang cewek-cewek ini.”

Aku juga menyadarinya. Cepat atau lambat, aku juga akan merasakannya. Ada rasa bahagia disana, tapi tak dapat dipungkiri rasa cemas juga ada.

Obrolan kami dimulai dari pesta pernikahan. Ada yang pernikahannya ingin serba menarik, ada yang ingin biasa saja yang penting sudah punya rumah pribadi. Dan anak-anak lelaki rupanya mengeluhkan cara pandang perempuan dan keluarga perempuan yang semua-muanya mesti kudu wajib fardu ‘ain dibiayai pihak laki-laki. Mereka sampai berpikir mau hutang demi membayar mahar dan pesta 7 hari 7 malam. Uwow.

“Tak semua laki-laki….”

“memiliki kemampuan finansial yang kuat.”

Hoh. Nyanyi sendiri, lanjutin sendiri.

Uang itu bisa dicari bareng-bareng. Itu perkataan yang sudah sering aku dengar. Entah mengapa menanggapinya, didalam hati ada yang berkata Agree juga Disagree.

Pernah ada juga aku dengar dari temanku yang berpendapat lain,

Uang itu urusan laki-laki. Perempuan duduk manis di rumah aja, biar anak ada yang mendidik. Mendengar pernyataan ini, sebagai wanita, sebenarnya aku agak tak merasa nyaman.

Terlepas dari urusan agama yah (karena menurutku agama adalah urusan privasi komunikasi transedental), pada dasarnya manusia – termasuk wanita – memiliki kebutuhan-kebutuhan lain diluar sandang-pangan-papan. Baca deh teori kebutuhan Maslow.

Yang menarik adalah pernyataan sang wanita:

“Kalo calon suami gue pejabat, mau gue nikah sekarang juga. Aman. Ga usah capek-capek mikirin cari duit lagi.”

Jadi, laki-laki dengan keadaan seperti apa yang kira-kira tak membolehkan wanita ikut mendayung (secara finansial)? Jawab masing-masing, tidak perlu buru-buru, tidak dikumpul.

Kenapa laki-laki masih ada yang bertanya “Kok cewek banyak yang matre,sih?”

Dengan senyum kecut, perempuan menganggap itu retoris.

Perempuan sering berhias. Bisa jadi ini adalah bentuk rasa takut lelakinya akan pindah ke –yang lebih bening. Pria adalah makhluk visual, right?

Perempuan ingin jaminan anak keturunannya terjamin. Yak. Kalau Anda calon orang tua yang baik, pikirkan dari sekarang untuk menyisihkan uang untuk pendidikan, kesehatan anak hingga dewasa. Dengan memiliki suami yang mapan, perempuan tentu tidak akan terlalu repot memikirkan faktor ini dan memusatkan perhatian dengan mencintai suami dan anak-anaknya.

Padahal sebenarnya, perempuan adalah makhluk yang sebagian besar daya pikirnya dipengaruhi perasaan. Ia rela melakukan apapun demi orang yang telah menyentuh hatinya. Sekalipun orang itu adalah calon suami dengan keadaan apa adanya.

Perempuan dapat mengiyakan untuk memulai bahtera dari titik nol. Perempuan mau berganti-gantian ketika lelakinya sedang lelah mendayung. Bahkan Ia mampu untuk mendayung bersama-sama, berlelah-lelah, berpeluh tapi tak mengeluh. Tapi sekali lagi, Paragraf ini hanya untuk pria yang benar-benar ia cintai. Bukan sekadar untuk “bapaknya anak-anak”.

Sayangnya, ketika sudah sama-sama mendayung dan berhasil melewati pantai – yang ombaknya lebih besar – pria kadang-kadang menjadi lebih congkak. Seakan-akan itu hasil jerih payahnya semata dan ingin mencari perahu lain yang lebih besar. Itulah yang perempuan takutkan. Ketika perahu kecil nya berubah jadi kapal bajak laut.

Ketika perempuan berada di titik ini, ada yang memutuskan untuk pergi dari perahu itu , dan ada yang memutuskan untuk bertahan. Tapi aku yakin keduanya tak akan ada yang tanpa air mata.

“Tak jadi masalah aku ikut mendayung, bahkan jika aku yang harus mendayung lebih keras. Tapi jangan biarkan buah hati kita juga ikut. Biarkan mereka duduk manis, memandang ke lautan nan indah sebelum kita melepasnya ke bahtera masing-masing…”

Advertisements

About desisonia

as like as mirror pahamin bahwa smw org punya masa PASANG-SURUTnya. ada kalanya compang-camping, ada kalanya flamboyan. Tgantung kita bsa nerima keadaan yg spt ap... View all posts by desisonia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: