Dari Pugung Hingga Jukubatu

Perjalanan dimulai tepat pukul 08.30 WIB. Dari kediaman ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia, Pak Yaman Aziz, dan dengan Kijang Grande Birunya, saya dan 8 orang lainnya termasuk beliau berangkat ke Pugung Raharjo, sebuah situs purbakala bersejarah di daerah Lampung. Sabtu (24/12) lalu sekaligus diadakannya PNPM Pariwisata di daerah tersebut yang menyuguhkan beberapa tarian khas daerah yang dibawakan oleh anak-anak setempat.

Tarian selamat datang khas Lampung

sekapur sirih

 Dan yang ini adalah salah satu bukti peninggalan nenek moyang kita zaman dahulu di Purbo Raharjo

 

batu mayat

Kemudian, pukul13.30 kami beranjak pergi ke juku batu, tepatnya di kecamatan Banjit – kabupaten Way Kanan. Jangan terkesima jika Anda melewati daerah eksotis ini, karena dari awal masuk ke desa Jukubatu ini, Anda akan menyaksikan rumah-rumah panggung yang masih tradisional berjajar rapi sepanjang jalan. Pukul 21.3o kami sampai. Lalu, kami  pun menginap di rumah Pak Badrudin, Kepala Desa. 

Pagi harinya, kami membuka mata, dan WOW.. dari lantai atas rumah Kepala Desa, pemandangan landscape yang luar biasa memesona  memanjakan mata kami. 

pemandangan dari lantai atas rumah panggung pak KaDes

look, ada kolam ikan nilanya juga..

Well, kami setelah kami berhasil untuk tidak pingsan saking kesenengan (halah), kami akhirnya berbagi tugas. Yang cewek-cewek membantu istri dan anaknya pak Kades untuk membuat sarapan. Yang cowok-cowok, cuci mobil. Yeah.

After that, kami berkeliling sekitar rumah tersebut. Dan kami menemui beberapa ibu-ibu tangguh yang sedang menanam padi. Kami pun merasa penasaran untuk ikut andil dalam proses terciptanya beras yang biasa aku masak di magic jar sehari-hari. Yuk,lah..

ikutan nandur (baca: ngerecokin)

Berasa jadi mahasiswi pertanian,deh.. hehehe…

Lanjut, kita menyantap makanan yang telah diracik sedemikian rupa.. 

mimpi gue salah satunya adalah makan lesehan di sawah : CLEARED

 Nah, dan bagian yang paling attractive baru akan dimulai. Kami berjalan, beberapa dari kami sengaja tidak menggunakan alas kaki, menuruni jalan berbatu yang akan mengantarkan kami pada wahana-wahana yang luar biasa indah disini. Apa sajakah wahana itu?

1. Sumber mata air panas

2. Sungai dengan aliran yang cukup deras (cocok nih buat arung jeram)

3. air terjun

check it out!

satu keluarga yang sedang menikmati hangatnya pemandian air panas

pemandangan dari atas air terjun "No named"

Nah, ini dia salah satu diantara 200an air terjun yang terdapat di Banjit - Way Kanan. Yang ini setinggi 15 meter.

setelah kembali lagi ke pinggir sungai, tepar tapi tetep stay cool

 Untuk demikian sekian laporan singkat dari Way Kanan. Sebenernya saya pingin cerita banyak, tapi takut nti malah jadi novel. Untuk siapapun yang berminat kesini, pesan saya : Jangan merusak alamnya yah!! Sumpah, gak rela banget kalo alam yang indah itu diapa-apain.. Uggghh….

Sampai jumpa di postingan berikutnya 😀

Advertisements

About desisonia

as like as mirror pahamin bahwa smw org punya masa PASANG-SURUTnya. ada kalanya compang-camping, ada kalanya flamboyan. Tgantung kita bsa nerima keadaan yg spt ap... View all posts by desisonia

5 responses to “Dari Pugung Hingga Jukubatu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: