Antara SAW III, Kematian, dan Arti Keberadaan KITA…

Berbicara tentang psikopat, saya jadi teringat dengan sebuah film barat bergenre horror yang saya yakin kalian semua juga tahu : the SAW. Pertama kali saya melihat film SAW III, saya menilai bahwa ini bukan film yang menakutkan, melainkan menjijikan. Isinya hanya seputar alat-alat yang mampu dimodif oleh sang psikopat untuk menyiksa calon korbannya. Kesadisan, darah, dan terpisahnya organ-organ dalam tubuh manusia menjadi eye catching dalam film ini. I really hate this movie, karena gak seperti film-film horror yang lain yang memiliki motif yang kuat untuk membunuh, yang ini enggak. Jadi, hanya dengan melihat korbannya degdegan dan meronta menjelang kematiannya adalah sebuah kepuasan tersendiri bagi seorang psikopat. Bukan karena sebuah dendam, atau apalah itu.

Namun, ketika sampai di akhir cerita SAW III, saya baru menemukan sebuah titik terang. Sang psikopat yang juga sering mengenakan topeng itu rupanya adalah seorang kakek-kakek yang memiliki penyakit parah. Dia dirawat oleh seorang wanita yang pernah menjadi korbannya namun gagal dibunuh. Rupanya, kakek tersebut tidak sembarangan memilih korban.  Ia mencari mereka, para manusia yang enggan untuk melanjutkan hidupnya, para manusia yang berharap akan kematian. Mereka ini biasanya menganggap bahwa kematian itu adalah jalan pintas bagi mereka untuk menyelesaikan masalah yang mereka hadapi. Mereka ini adalah manusia yang ingin mati tapi tidak ingin bunuh diri.

Mungkin bagi yang suasana hatinya sedang normal akan menganggap bahwa mereka adalah si bodoh yang pecundang, tapi sesungguhnya disaat kita benar-benar berada dalam tumpukan masalah dan merasa tidak ada yang akan membantu kita, dan titik klimaksnya kita menganggap Tuhan pun seolah-olah menjadi pendukung atas masalah yang terjadi (Na’uzubillah), maka tidak ada hal lain yang ada didalam benak kita selain mati. Dan percayalah, yang dapat mengerti perasaan orang-orang yang sedang berada di depresi tingkat tinggi ini hanyalah orang-orang yang suasana hatinya juga sedang rumit. Tidak ada yang dapat menolong untuk mengembalikan rasionalitas seseorang macam ini kecuali dirinya sendiri.

Kembali ke masalah film SAW III tadi, si Kakek ternyata merasa kesal dengan mereka yang dianugerahi waktu dan kesempatan lebih banyak oleh Tuhan untuk hidup, namun tidak menghargai makna hidup itu sendiri. Di sisi lain, si Kakek berjuang keras bertahan hidup dari penyakit yang telah divonis dokter itu dengan selang pernafasan dan mesin bantuan lain yang tersambung ke tubuh rentanya. Kakek tersebut, bersama perawatnya, akhirnya ‘membantu melancarkan’ permintaan dalam hati orang-orang ini.

Dan menariknya, ternyata sang korban yang merupakan orang-orang yang desperate akan hidupnya itu saat akan dibunuh malah meronta, menjerit ketakutan, meminta ampunan dari sang pembunuh. Ketika itulah mereka baru menyadari bahwa mati itu bukan hal yang seharusnya mereka minta. Ketika itulah mereka menyadari bahwa banyak hal menyenangkan di dunia ini yang harus mereka tinggalkan bila mereka mati. Dan ketika gerbang kematian yang sebenarnya sudah berada didepan mata, barulah mereka menyadari.. bahwa hidup luar biasa berharga…

Saudaraku, temanku, sahabatku, dan musuhku yang budiman..

Baik yang pada hari ini sedang dalam suasana hati yang riang maupun yang sedih. Kita sendiri menyadari bahwa manusia memiliki masa pasang-surut dalam hidupnya. Dan biasanya, pada masa surut itulah, perasaan kesepian, terkucikan, tak berharga, malu dsb hinggap dalam otak kita.  Untuk itulah kita selalu butuh orang lain untuk mengatakan bahwa apa yang kita pikirkan adalah SALAH, untuk mengatakan “No, you’re not” saat kita berbohong “I’m okay”. Dan apabila ada seseorang yang datang kepadamu untuk bercerita, jangan menolaknya, karena bisa jadi kamu adalah tempat terakhir bagi rasionalitasnya. Inilah arti dari pentingnya satu sama lain sebagai manusia. Bukankah pada dasarnya, manusia itu bukan AKU ataupun KAMU.. tapi KITA…?

Advertisements

About desisonia

as like as mirror pahamin bahwa smw org punya masa PASANG-SURUTnya. ada kalanya compang-camping, ada kalanya flamboyan. Tgantung kita bsa nerima keadaan yg spt ap... View all posts by desisonia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: