Para Pahlawanku (10 Nov)

Kalau bicara soal sejarah, kita punya banyak banget pahlawan nasional, pahlawan republik. Coba deh, kamu beli buku Atlas, biasanya dibelakangnya ada tuh barisan gambar-gambar pahlawan kita. Meskipun kesini-kesininya ada yang mempertanyakan eksistensi ‘kepahlawanan’ beberapa sosok yang ada disana.

Untuk saya sendiri, saya telah mematok 2 profesi yang selalu saya anggap sebagai pahlawan.

1. Orang Tua

      Entah kenapa menjadi orang tua yang baik adalah mimpi wajib diatas mimpi-mimpi yang lain. Kenapa? Karena ‘orang tua’ yakni ibu dan ayah memiliki 2 kepala yang berbeda dan memelihara anak-anak mereka dengan 1 visi, 1 misi. Dan menurut saya, itu hal yang tidak mudah untuk menyatukan 2 kepala. Apabila teman saya ada yang sukses, atau yang saya lihat kesehariannya selalu ceria, kemungkinannya hanya ada 2 : keluarganya hangat, atau sebaliknya, hidupnya berantakan dan ingin dia sembunyikan.

Bersyukurlah yang merasa punya orang tua lengkap yang selalu ada menemani anaknya hingga benar-benar mandiri, memenuhi mimpi-mimpi anaknya meskipun dia sendiri masih banyak mimpi yang tak terwujud, menyembuhkan luka anaknya disaat yang lain justrumeninggalkan karena  jijik dengan luka kita. Kedengarannya sempurna, yah? Tapi tahukah kalian banyak orang tua yang justru melakukan sebaliknya? Banyak orang tua yang telah melanggar batas norma-norma dalam keluarga. Banyak  ayah yang tidak menjalankan kewajibannya menafkahi keluarga, malah ‘menafkahi’ yang lain. Banyak ibu yang lebih memikirkan penampilan luarnya padahal penampilan hatinya jauh lebih bisa dikagumi oleh anaknya. Banyak istri yang merongrong suaminya untuk membelikannya sesuatu tanpa mengetahui keterbatasan suaminya. Akibatnya pemenuhan kebutuhan dilakukan secara HALAL-HARAM-HANTAM.

Dan disadari atau tidak, untuk para orang tua yang melenceng dari seharusnya itu, sang anak pasti mengalami dilema. Pada akhirnya anak mengikuti jejak orang tuanya, dan begitu seterusnya. Saya pernah mendengar istilah : Sama halnya seperti cinta, kebencian juga dapat diwarisi.

Saya merasa bersyukur, di sekeliling saya masih banyak contoh buruk dan baik yang bisa saya petik sebelum saya membangun sebuah keluarga itu sendiri. Dan saya rasa peran orang tua saya dari dulu hingga sekarang cukuplah untuk membangun pondasi hidup kedepan. Percayalah, ga ada orang tua yang sempurna. Meskipun begitu, orang tua yang sempurna adalah mereka yang selalu berusaha menyempurnakan akhlak anaknya. Orang tua ku, pahlawanku.

2. Guru

     Kelas 1-3 SD adalah batas terakhir riwayat desi si anak manis, selanjutnya rangking saya menurun terus, nilai ulangan yang seharusnya ditanda-tangani orang tua malahan saya sembunyikan dan tanda tangan sendiri. PR (Pekerjaan Rumah) sering dikerjakan di sekolah, alhasil teman yang melihat mengadu ke guru. Saat itu, kelas 5 SD, wali kelas saya bernama Pak Darman.

“Desi, kemari.” katanya

Saya pun beranjak ke depan. saya sudah memikirkan apa yang terjadi selanjutnya. Pasti disuruh berdiri, angkat kaki satu sambil jewer kuping. Aku sudah terbiasa melakukannya, pikirku. Tapi ternyata kenyataannya tidak seperti itu.

Aku berdiri disamping kursi Pak Darman. Kemudian Pak Darman merangkul pundakku.

“Desi sayang gak sih sama pak Darman?” ucapnya lembut. didepan teman-teman sekelas.

aku tersentak. hah? Bapak ini ngomong apa sih? Kenapa gak di marahin aja kek, setrap aja tah. Kemudian aku menjawab,

” sayang, pak…”

Pak darman berkata lagi, “Kalo sayang kenapa PR nya ga dikerjain aja dirumah..?” ujarnya masih dengan kelembutan yang menusuk ke dalam hati. Tanpa sadar, aku menangis di tempat. Ada sesuatu dari dalam hati yang benar-benar sulit untuk dijabarkan. Bukan kalimat seperti itu yang aku harapkan dari kesalahan-kesalahan yang aku buat. Tapi ungkapan selembut itu, justru menyadarkanku. Dan memberiku pelajaran : Tidak semua anak nakal harus di hadapi dengan amarah.

Satu hari setelah masuk caturwulan ketiga, pak Darman meninggal. para anak didiknya ikut melayat ke rumahnya. Sepanjang perjalanan bahkan ketika aku melihat raganya terbujur kaku, kami semua menangis. Tuhan sayang Pak darman, aku yakin itu, pikirku dalam hati.

Selanjutnya, aku sangat menghargai profesi guru. Sayangnya, banyak guru yang aku lihat, hanya menjadi pengajar tanpa mendidik. Mereka menempelkan ilmu tanpa sesuatu yang berharga yang menempel di hati. Bahkan, yang ku sebut guru korup juga ada. Mirisnya. Padahal andai saja mereka tahu betapa berharganya ilmu dan hati mereka bagi anak muridnya, dan betapa besar ganjaran dari Tuhan Yang Maha Adil untuk mereka….

Ya, Guru yang sebenar-benar guru, aku menyebut mereka… pahlawanku.

Advertisements

About desisonia

as like as mirror pahamin bahwa smw org punya masa PASANG-SURUTnya. ada kalanya compang-camping, ada kalanya flamboyan. Tgantung kita bsa nerima keadaan yg spt ap... View all posts by desisonia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: