Sang Pendengar

Ananda duduk tepat di depan pak Subono, yang berada di antara aku, dan Bu Endang. Mimik wajahnya terlihat tenang sebelum menjawab pertanyaan yang kami bertiga ajukan. Meskipun gerakan tangannya yang berkali-kali mengoyangkan pena menunjukkan sedikit rasa cemasnya, Aku terheran-heran melihatnya.
Aku malah yang khawatir. Aku masih tak yakin, benarkah dia akan menjawab kami dengan benar? Benarkah dia mengerti apa yang dia pelajari?. Apakah dia akan LULUS?
***
Tiga setengah tahun yang lalu—
“Teh Rasmi, tolonglah kau bimbing dia.. Anak ini cerdas, buktinya dia bisa lolos SNMPTN tanpa harus minta bantuan kamu…” ujar Yasuana memelas.

“Tapi sikap anak itu kelewatan, yas.. Dia seperti tidak berada dalam jalur yang benar. Apa kau yakin nantnya anak itu mampu bertahan di jurusan Ilmu Komunikasi ini? Sosial anak itu bisa dibilang, maaf, sangat rendah.”

Yasuana, adik iparku itu pun hanya bisa terdiam. Dia sadar benar bagaimana anaknya. Sejak kepergian ayahnya 3 tahun lalu, Ananda menjadi pendiam. sangat pendiam. Bahkan kepada Yasuana, ibu kandungnya sendiri. Saking pendiamnya, teman sejawatnya sempat mengira Ananda anak yang bisu. Wajar temannya berpikiran seperti itu, bayangkan, ia hanya menggunakan kode-kode atau isyarat seperlunya untuk berbicara dengan orang lain. Terlalu dingin, dan tak acuh dengan kondisi sekitarnya. Kadang aku bertanya darimana sifat seperti itu? Ayahnya yang notabene merupakan adik kandungku jelas bukan tipe seperti itu. Lalu, ibunya kah?

Lantas ibunya, si Yasuana itu, menyuruhnya untuk masuk ke jurusan Ilmu Komunikasi, tempatku mengajar sebagai dosen tetap. Ananda memang masuk dengan mudah karena IQ nya diatas rata-rata. Tetapi… Aku tidak yakin bahwa jurusan itu adalah tempat dimana dia bisa mengembangkan minat dan bakatnya.

Dan seperti yang telah aku duga, seminggu pertama Ananda kuliah, ia sama sekali tidak berinteraksi dengan siapapun. Aku berkali-kali menasihati dia supaya lebih berjiwa sosial tinggi, setidaknya berbaurlah dengan teman sebayanya. Ceramahku rupanya berbuah sedikit perubahan pada Ananda. Yang aku tahu, ia memiliki seorang teman dekat, namanya Bella. Berbeda dengan Ananda, Bella sangat komunikatif, supel dan mudah menarik perhatian. Sangat kontras anak seperti Ananda bisa menyatu dan berteman dengan anak yang berkarakteritik seperti Bella.

Berselang 1 Semester kemudian aku melihat Ananda lagi dirumahnya, dimana sebelumnya aku terlalu sibuk sehingga tidak memerhatikan perkembangan keponakanku itu.
Aku bertanya, “Bagaimana? Kamu sudah dapet teman berapa sekarang?”
Ananda cuma menggeleng.
Aku yang ‘geregetan’ bertanya lagi, “Loh? si Bella temenmu itu kemana??”
Ananda menatapku, aku membaca tatapannya seolah tidak ingin mendapat pertanyaan semacam itu.
“Kamu dengerkan uwa’ nanya??! Kalo ditanya itu JAWAB !!!” kataku dengan nada membentak.
Ananda kemudian pergi dari hadapanku.
Lima belas menit kemudian dia kembali dan memanggilku, “Uwa’, maaf”
***

Suara berisik tukang bangunan dari luar kelas membuyarkan lamunanku. Aku masih seperti bermimpi bisa melihat Ananda hadir ditengah-tengah Dosen Penguji unuk melaksanakan ujian akhirnya. Ia mengambil judul tentang komunikasi antar pribadi.
Tangan pak Subono menyenggol lenganku, isyarat bahwa kini giliranku bertanya. Aku harus objektif, pikirku.

Detik demi detik, menit demi menit berlalu, dengan fasih Ananda menjawab pertanyaan kami seputar materi skripsinya. Dia sangat menguasai materinya, akupun mulai merasa lega. Terlebih lagi karena melihat waktu telah berjalan 40 menit.

Aku mulai akan membereskan lembaran berkas yang ada didepanku ketika Pak Subono, dosen senior di jurusan itu memberikan pertanyaan terakhir.
“Menurut kamu sendiri, apa itu komunikasi?”
Pertanyaan sepele,pikirku. Kalau dia tidak lulus hanya karena tidak bisa menjawab pertanyaan itu, mungkin aku akan menyuruh Ananda langsung menikah saja. Konyol. Semua yang berada di lngkup ilmu Komunikasi pasti tahu bahwa simpelnya, Komunikasi adalah proses penyampaian pesan dari komunikator ke komunikan.
Namun Ananda menjawab,
“Anda sekalian pasti mengerti secara harfiah apa itu komunikasi. Bahkan lebih tahu daripada saya. Komunikasi adalah proses penyampaian pesan dari komunikator ke komunikan yang memerlukan media / channel sehingga menghasilkan feedback.” Ananda berhenti sejenak untuk mengambil nafas.

“Tapi pengetahuan saya tentang definisi itu justru memberikan pertanyaan tujuan awal saya masuk kesini. Mengapa, dari awal saya diburu-buru untuk jadi komunikator yang handal? Hal ini cukup aneh, mengingat disekitar saya,
banyak yang pandai berbicara tapi tidak menghargai saat orang lain bicara, banyak yang bicara tanpa tahu batasan kapan dia harus berhenti bicara,
banyak yang membicarakan orang lain tanpa memperhatikan perasaan orang lain yang ia bicarakan,
banyak yang ahli berbicara tanpa mempertanggungjawabkan apa yang dia bicarakan…”
Aku tertegun. Kesimpulan yang ia buat pastilah dari contoh disekitarnya, pikirku.

Ananda melanjutkan,

“Kenapa menjadi Komunikator yang handal seolah-olah yang dielu-elukan? Bukankah, definisi komunikasi mencantumkan juga kata komunikan? Bagaimana mungkin, seseorang yang masuk ke jurusan ini dapat menjadi komunikator yang baik bila tidak dimulai terlebih dahulu sebagai pendengar yang baik? Adakah mata kuliah seperti itu disini?”

Suara berisik tukang bangunan dari luar ruangan terdengar lebih jelas. Enam mata di depan ruangan menatap dua mata kecil ananda dalam diam.

Aku geli menerima kenyataan ini. Tapi saat itu hati kecilku berbisik, “Dia memang anak adikku…”

Advertisements

About desisonia

as like as mirror pahamin bahwa smw org punya masa PASANG-SURUTnya. ada kalanya compang-camping, ada kalanya flamboyan. Tgantung kita bsa nerima keadaan yg spt ap... View all posts by desisonia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: