short story

Desi duduk di bangku ayunan di taman kompleks bersantai dengan membawa beberapa carik kanvas dan alat tulis kegemarannya. Wajahnya dingin dan serius seolah tak ada yang ingin dilakukannya selain membawa apa yang memenuhi otaknya ke atas kanvas tersebut. Hanya dalam suasana sepi seperti inilah ia mampu menjadi dirinya dan mengungkapkan apa yang sebenarnya ia rasakan. Dan hanya kepada kanvaslah, ia bercerita.

Goresan sederhana hendak ia buat. Ditemani dendang alam disekelilingnya ia mulai berkarya. Desi pun mulai berimajinasi.

“Aku ingin memiliki teman yang rupawan sehingga aku tidak malu saat berjalan bersamanya.” Ia bergumam sambil menggambar seorang gadis sebaya.

TRING. Muncullah seorang yang modis duduk disampingnya. Membawa alat-alat kecantikan wanita dewasa.

“Aku juga butuh teman yang pintar yang bisa mengajariku dibidang akademis.”

TRING. Muncullah seorang pemuda yang agak culun membawa buku-buku dan sibuk menghitung dengan kalkulator. Desi tersenyum sejenak, terdiam, kemudian menggambar lagi.

“Aku ingin teman yang banyak uang. Siapa tahu aku bisa dijajanin terus..” katanya sambil tersenyum sinis.

TRING. Muncullah gadis kecil yang kelihatan hedonis dengan gadget cangggih dan makanan ditangan kanan dan kirinya.

“Aku ingin teman-teman yang lucu, agar hidupku tidak membosankan.”

TRING TRING. Muncullah 2 orang gadis seumuran yang saling menertawakan satu sama lain.

“Baiklah. Hidupku sempurna.” Desi menutup kanvasnya dan berjalan menjauh dari taman. Kelima tokoh yang berada dikanvas itupun mengikutinya dari belakang.

Desi mulai tersenyum puas dengan apa yang dimilikinya. Namun ia merasa ada yang kurang. Sang pemuda pintar tadi ternyata tetap sibuk ditempatnya.

Dengan kesal, ia membuka lembaran kanvas tadi dan menghapus gambar tokoh ‘teman yang pintar’ tadi. PUFF. Hilanglah pemuda itu.

Dan ia kembali berjalan.

Ia mulai bercerita tentang apapun yang ia rasakan. Tentang rasa sedihnya saat ia harus kesepian dengan hanya ditemani kanvas. Tentang rasa bahagianya dengan keberadaan teman-teman yang sesuai dengan kriterianya.

Beberapa langkah ia berjalan didepan, ia merasa tak ada tanggapan yang ia dengar. Dibelakangnya, temannya yang cantik sibuk merapihkan bedaknya. Dan temannya yang kaya raya sibuk dengan dunia maya di handphonenya.

Karena merasa kesal, di hapuslah mereka berdua. PUFF PUFF.

Tinggal kedua teman konyol yang sedari tadi tertawa.

“Tak apalah hanya kalian. Temani aku sampai didepan yah..”

Kedua makhluk itu hanya tertawa.

Baru satu langkah maju, Desi terjungkal. Kakinya terantuk batu.

Lengannya sedikit lecet. Susah payah ia kembali bangkit untuk berdiri. Tak ada tangan yang menyambutnya. Tak ada. Malah tertawaan yang ia dapat.

“Kalian hanya mau tertawa,hah? Tertawalah seterusnya!” ujarnya marah sambil menghapus mereka berdua. PUFF PUFF.

Akhirnya Desi sampai didepan. Di ruang kosong, hampa, dan tanpa seorang teman pun.

Ia terduduk dan terdiam. Melihat lembaran kanvasnya kini putih kembali.

“Seharusnya aku tidak minta macam-macam.” Ucapnya sedih. Saat ia hendak menggambar lagi, tangannya melemah. Ia membanting semuanya ketanah dan menenggelamkan kepala ke lututnya.

“Aku hanya butuh teman untuk berbagi. Teman yang bisa menemaniku dan menolongku disaat senang maupun susah…”

Untuk beberapa lama ia kembali dihadiahi dendangan alam.

Dan memberanikan diri untuk menyentuh pensilnya lagi.

Ia menggambar hal serupa dengan apa yang sebelumnya ia buat. Kali ini hanya mereka tanpa embel-embel apapun.

Gadis modis tanpa make up nya,

Pemuda pintar tanpa buku dan kalkulatornya,

Gadis kaya dan dua perempuan lucu yang hadir dengan tangan hampa.

“Aku tak peduli kalian siapa, kalian punya apa. Aku tak butuh itu. Aku hanya ingin kalian menjadi bagian terindah dalam kehidupanku.” Bisiknya pada sang kanvas.

Menggoreskan pensil kembali untuk beberapa saat kemudian dan sesosok gadis sebaya menawarkan tangannya untuk disambut.

Desi meraihnya lalu berdiri. Dan mereka berbaris kesamping. Sama-sama menatap kedepan, bergandeng tangan…

TAMAT

Advertisements

About desisonia

as like as mirror pahamin bahwa smw org punya masa PASANG-SURUTnya. ada kalanya compang-camping, ada kalanya flamboyan. Tgantung kita bsa nerima keadaan yg spt ap... View all posts by desisonia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: