Pelajaran dari Sang Juru Parkir

Kebaikan harus cukup kuat, jika tidak, ketidakbaikan lain akan menggilasnya.

Jika kamu pernah mengunjungi Chamart- Way halim menggunakan motor, kamu pasti pernah bertemu dengan penjaga parkirnya yang beda dari biasanya. Sudah biasa bagi pemotor untuk mengeluarkan biaya parkir sebesar 2000. Sudah biasa pula tukang parkir yang tiba-tiba muncul saat kita mau pergi saja. Terus terang, suamiku juga mengelola parkir di tempat yang berbeda. Kontras dengan penjaga parkir di ChaMart. Jika kita memberinya 2000, ia akan mencari 1000 untuk kembaliannya. Ketika kita ikhlas memberinya 2000 ia akan berterima kasih berkali-kali.

Oke. Individu yang baik itu biasa.

Tapi terakhir kali aku kesana, ternyata ada tukang parkir baru lagi, pemuda yang jauh dibawah umur bapak tersebut. Kebetulan aku dan keluarga kecil ke Chamart hanya berkunjung sebentar di hampir jam tutup, lalu mengurungkan diri karena beberapa stand sudah berkemas. Hanya beberapa menit disana, kami kembali ke parkiran. Kemudian pemuda itu yang menghampiri kami. Aku segera merogoh kocek parkir, tapi masnya bilang, “Ga usah mba, mas, kan cuma sebentar.”

Aku tertegun. Aku pikir pemuda yang dari luar tampak bersemangat ini akan meminta uang parkir, bukannya menolak uang parkir. Kami memaksa, “Udah, ini gak apa-apa. Kan udah dijagain.” Tapi pemuda itu tetap menolak.

Di perjalanan akupun berpikir lama. Mungkin saja bapak penjaga parkir senior itu mengajarkan idealisme dia kepada si pemuda itu. Kita juga tidak tahu apakah pemuda itu adalah anaknya, atau bukan. Yang jelas kebaikannya cukup kuat untuk ditularkan.

Terkadang kita ingin stay on the track di jalan yang baik, tetapi mungkin tekad baik kita tidak cukup kuat. Sederhananya ketika teman kita ingin membuang sampah sembarangan dari mobil, kemudian kita sudah larang. Tetapi ia bersikeras dan akhirnya sampahpun jatuh ke jalanan. Hal sederhana. Apalah artinya sebuah sampah. Ya. Tapi jika kita semua melakukannya?? Ada niat, tapi ya.. belum cukup kuat. Terkadang memancing paus dengan kail yang lemah. Bukannya terpancing, justru tertelan ke dalamnya.

Tegas dalam prinsip-prinsip yang membentuk integritas diri tidak memandang profesi. Entah itu berdasi atau sekadar mencari sesuap nasi. Kebaikan harus cukup kuat, jika tidak, ketidakbaikan lain akan menggilasnya. Bukan berarti digantikan kejahatan, tapi bisa jadi… kemalasan – salahsatuhal yang menjadi barrier penghalang kita untuk menjadi lebih baik lagi. Orang baik juga harus tegas, sesuai antara omongan dan perbuatan. Apa itu mudah? Tentu tidak. Karena setan jauh lebih mengintai dari urat terdekat.

Udah ya, segini aja. aku lagi males nulis.


Iman dan Imron

Pernah ada saudara ku yang berkata seperti ini,

Aku dah tanya ke temanku yang semua. Ternyata semua laki-laki sama. Pasti pernah selingkuh. Bukan, bukan imannya ga kuat. Imannya kuat, tapi imronnya gak kuat.

Dear ladies, i’m speechless. Bukan saya nyalahin imron (maaf imron, canda imron), tetapi konsep iman yang begiiiiiituuuu lemah dan menempatkan manusia (khususnya laki2) pada keadaan yang begitu tak berdaya akan nafsyu syahwat.

Itu sama saja dengan orang yang berpikiran “halal haram hantam”.

Lantas dikemanakan kah imannya?

Kan yang penting ngerjain! Duh, emen..

Tak berjalankah komunikasi transedental nya saat beribadah?

Aku sendiri tidak paham, mengapa ada yang sampai menangis tersedu-sedu dalam sujudnya. Tetapi ada pula yang sujud cuma karena malu jika terlihat tak beribadah oleh rekannya meski masih dalam keadaan junub.

Mengapa ada orang yang begitu takut meninggalkan sholat, ada pula yang harus diiming-imingi materi dulu oleh orangtuanya, baru mau sholat.

Ada juga orang yang rajin sekali ibadahnya, tetapi sering menyakiti wanita, merendahkan wanita, dimana agama justru menempatkan wanita dalam derajat tertinggi.

Ada yang pakaiannya religius, tetapi tetap dengan sadarnya menipu, berbuat curang dll dsb.

Dengan sadar. Dia sudah mengetahui perbuatannya salah, bukannya buta.

Jangan salahkan imannya! Salah orangnya! Betul.

Transedental dia yang salah. Something wrong with the way you communicate. Komunikasi dia ke Tuhannya lah yang salah. Jika dia mengartikan kata demi kata ketika dia memulai ibadah saja, seharusnya, hatinya bergetar ketika hendak berbuat dosa.

Bismillahirahmanirahim.

Dengan menyebut nama Allah, maha pengasih, maha penyayang.

Itu baru basmallah. Belum lagi kelanjutan lainnya yang jika kita pahami maknanya, jauh, jauh lebih cinta kita pada-Nya.

Dan semua agama sama saja, mengajarkan cinta.

Cinta, iya cinta.

Bukan sekadar takut.

Kalau atas dasar takut begitutuh, imron > iman.

Tapi kalau cinta, takkan dia sanggup menyakiti makhluk-Nya.

Ini diluar konteks. Temanku adalah wanita pada umumnya. Yang suka ngambek, ingin diperhatikan, dimengerti, bisa PMS, dan bisa bertambah2 mood swing nya saat hamil. Lalu suaminya bekerja di bumn, ketika istrinya hamil, ia belajar banyak masakan right after dia pulang kerja. Tanpa disuruh-suruh. Secapek apapun, memasak untuk istrinya. Temanku sampai bertanya,

“mas, kamu ini takut kah sama aku?”

“lah..kok takut sih? Kan (aku) sayang..”jawabnya.

Iman vs imron. Kamu cuma takut, apa memang sayang?

Kalau takut, kamu penuh tekanan menyayangi pasanganmu.

Kalau sayang, kamu takkan sanggup untuk berkhianat. Tak peduli sejauh apapun kamu pergi, sebanyak apapun kesempatanmu untuk mengkhianati.

Jika dia orang beriman, dia pasti lebih sayang kamu, bukan imron.


Journey of Being a Woman part II

I remind you to whoever see this. If you’re so damn beautiful, don’t laugh at me. Cuz i’m here to announce to all nerds outthere, to appreciate themselves, that their skin, body, face is precious. Just like what i do now, even if it’s too late.

 

 

Bab 2

Skincare

Jadi.. Setelah mengalami perjalanan make up yang cukup memakan kocek, aku ga sadar bahwa mukaku jadi bruntusan, nambah kusam, untungnya keliwat kering jadi jarang jerawatan kecuali pasir. Gimana engga, kadang makeupan malemnya ga dibersihin. Biar cantik sampe pagi. Cih.

Yass. Disitu aku sadar. Ternyata cewek cuma maju selangkah mundur selangkah. Duitnya abis buat make up, muka hancur, lalu abis duit lagi buat perawatan di dokter. Which is sekali dateng facial average bisa setengah juta tambah krim lain2.

Akupun terhenti sejenak mencari-cari. Euforia sudah mulai berkurang. Penggunaan makeup untuk acara tertentu aja, ga tiap malam kayak perempuan haus kasih sayang banget lagi.

Sekitar 2 tahun kemudian.. Anjay, lama bat yak. Aku pun dipertemukan di kantor yang baru dengan teman-teman yang baru. Disana aku yang sangat sulit dipengaruhi ini akhirnya bisa teracun!!

Awalnya karena aku malu, setiap foto tim paling kusam aneh gitu. Warna kulit ga jelas, sawo matang engga kuning engga, keijoijoan, kerak iler diujung bibir. Hadeh. Kemudian kita tim satu ruangan ini, dapat oleh2 sheet mask dari Korea yang Nature Republic: Deep Sea Ocean kalu gak salah (deep apa dead ya lupa. Haha) Malamnya aku menyempatkan mencoba disela2 ngurusin bayi. Dan wow! Sampai pagi lembab banget!! Disitu aku juga aku sadar, “keknya bisa nih tiap malem nyelipin waktu ngerawat badan”. Jadi aku mencari celah, nyusuin anak dulu sampe tidur lalu maskeran.

Nah. Karena maskernya enak tapi oleh2nya habis, jadi aku kepikiran. Untuk coba skincare yang lainya lagi.

Akhirnya ketika temanku membeli trial salah satu skincare korea di shoppee, aku iseng dong nitip. Padahal aku gak tau yang dibeli juga apa. Namanya apaan juga gatau. Padahal doi udah wanti2,

“Di cek dulu mba, di review, kira2 cocok apa engga”

Tapi aku tetap beli.

Besoknya, masih penasaran, aku direkomendasikanlah oleh temanku itu beberapa olshop yang trusted. Aku yang tadinya takut mau pakai merk luar, sekarang sudah yakin (emang mereka racun parah). Aku kepoin akun2 itu sampai aku menemukan caption di IG yang sesuai permasalahan kulitku.

“Anda Pusing dengan kulit kusam?”

“ya! Saya! Saya!”

“bingung mengatasi kulit kering?”

“iya! Saya! Saya!”

Aku pingin beli itu. Aku pikir yang aku titip ke temenku adalah itu, ternyata beda. Aku baru tau namanya beberapa hari kemudian. Disaat aku mulai kenal Laneige, Inisfree, Some by mi. Aku tanya, yang kemaren namanya apa?

“eksisway.”

“hah?? Eksis apah??”

Daripada capek, doi kirimin linknya. Ooohh, gue baru denger yang ono, lalu cari tau lagi. Gile. Dalam seminggu indepth research gue lumayan banget, gue jadi hapal nama2 skincare yang lagi ngehype beserta kegunaannya. Gue langsung beli sample beberapa skincare dan rajin bersihin muka tiap hari. Karena ternyata, make skin care itu ada step-stepnya. Uhuy!

Kayaknya sekarang ada kali 3 mingguan pake skincare. Dan ternyata candu, rasanya pingin cobain banyak dari cleanser, toner, serum, sleeping mask, sun screen dari yang korea sampe yang lokal. Itu juga merambat jadi pengen ngerawat badan, mulai deh beli macem2 handbody, body butter, aloe vera, lulur. Sampe akhirnya suami bilang..

“ih, kapalan di kulit kaki kamu ilang. Kamu udh rajin ngerawat badan sekarang?”

Subhanallah.

Sebuah pencapaian luar biasa. Sekarang aku pakai Laneige Clear C series dan water sleeping mask nya dan hasilnya alhamdulillah cucok sejauh ini. Semoga skincare ini pun berbuah hasil. Serta kalo udh ada hasil, semoga gajih ku utuh untuk repurchase. Aku berharap.

Kesimpulannya, secuek apapun wanita, ternyata kodratnya adalah kembali menjadi.. Ya wanita!

Daripada marah2 kemudian tambah keliatan tua, lebih baik lampiaskanlah dengan merawat diri. Supaya sumber marahmu itu nyesel. Haaapaasihh.

Gituh. Ga ada inti yang berarti.

Wahai suami, sayangilah istrimu.

Dan wahai istri, rawatlah dirimu dengan uang dari suami. Itu hak mu. Daripada jatuh ke pelakor yekan uunch cucok eeiiym!

Segitu dulu yaa.. Bye bye black head!


Journey of Being a Woman (Not a Mom)

WhatsApp Image 2019-12-12 at 11.06.33

sekarang jadi seneng selpih walopun ga ada byutipai nya

BAB 1

Make Up

“Kamu bukan cewek cuek, kamu cuma ga berada di lingkungan yang feminim aja.” ujar suami berkali-kali.

Iya memang, setelah ngerasain di “racun” oleh teman-teman sekantor, rasanya jadi candu. Sebenernya sedikit mikir kayak, ” Ebuset, jadi cewek beneran nih gue. Kemaren2 gue laki banget apa tah?”

Aku yang dulu berpikir: Makin dandan, desi makin kayak bencong. Desi orangnya natural.

Pertama kali aku mulai sadar untuk berdandan ketika ada acara syukuran anak pertama. Disana, aku yang ‘merasa’ udah dandan, dibenerin lagi oleh tante dari pihak suami. Ia mengotak-atik alisku yang udah lama setengah botak akibat waktu nikah dicukur kang makeUp. “Desi, dandan yang bener sih. Gereget loh.” ujarnya misuh-misuh sambil ngebentuk alis di wajahku. Aku manut sambil melihat kesibukan para wanita didepanku yang berkerumun saling mendandani. Buset, emang pada cetar-cetar sih pada. Kulitnya putih-putih, jilbab rapih, emas bergelimpangan…

“Dah ni! Coba liat!” hentaknya. Akupun menengok kaca dan woow! Alis aku kayak NIKE yang Blur dibagian tengah. Kece parah! Sedikit perubahan dari alis aja ternyata berpengaruh pada kesegaran muka gue. Dan detik itu gue merasa, ternyata gue kalo dandan gak jelek-jelek amat.

Berselang tahun, aku masih orang yang kusut, kumel, kucel karena sok sibuk. Bos ku aja sampe menghelat training tata busana saking hopelessnya dengan kemampuanku berpenampilan.

“Jilbab motif sama baju motif, udah gitu warnanya laen-laen. Jilbab mau kepaasar dipake ke kantor. Udah kayak mau ngajak perang.” kata beliau.

Begitulah. setelah training, aku sedikit tercerahkan. Meskipun kadang masih kembali ke dosadosa sebelumnya. Singkatnya, Momen ketika aku belajar make up adalah ketika aku memutuskan jadi IRT. Dengan alasan bahwa aku ga ngapa-ngapain, makanya aku butuh mengerjakan sesuatu seperti… dandan! Youtube, Instagram aku kubek-kubek soal make up. Cara bikin alis, milih lipstik, ikutan flash sale sampai nemuin warna fondation, cushion, brush, yang cocok sama kulit kita… Alhasil, ibu dan adekku sering melihat hasil experiment ku yang kayak ondel-ondel pas aku gak sengaja lewat.

Opini adek: “Astagfirullah! Serem amat sih teh! Lagian ngapain kali di rumah kok dandan..”

Opini emak: “Mau kemana?” “Mau kemana?” “Mau kemana”

padahal anaknya emang ga kemana-mana.

Sampai akhirnya aku bisa ngajarin orang lain bikin alis. Adekku wisuda, aku yang dandanin dengan alat tempur yang bisa ku katakan cukup lengkap saat itu.

Lalu aku baru sadar….

Bahwasanya, makeup itu bikin kulit kita stress…

 

Bersambung..

Jiailah kek tersanjung aje…

 


Andai Aku Anak Teknik

Singkat cerita, penulis bukanlah anak sains. Penulis bukan orang yang passionate di bidang Fisika, Kimia, Biologi dan turunannya. Sejak SMA, sebelum pembagian jurusan untuk naik ke kelas XI, tes psikotes dilakukan. Saya, dinyatakan bisa untuk masuk IPA. Namun tidak seperti teman yang lain, saya tetap mengikuti hati untuk masuk IPS. Orangtua juga Alhamdulillah nya demokratis ( atau mungkin mereka mikir “ah biar-biarin aja, ntar kalo gagal masih ada adeknya ini” halah.) Saya berpikir, apa jadinya kalau saya di IPA. Mungkin saya bisa mengikuti pelajarannya, tapi akan selalu jadi yang paling akhir mencerna disaat yang lain sudah ngerti semua. Dah. Akhirnya saya sadar diri.

Jadi, aku menekuni IPS, akuntansi, sejarah dan semacamnya. Lalu kuliah, masuk jurusan Ilmu Komunikasi. Kenapa? Awalnya karena 2 hal; 1. karena saya pemalu dan gak bisa mengungkapkan pesan yang ada di otak. 2. karena bapak saya orang media jadi kalo gak ngerti tugas bisa tanya ke beliau.

Tahun demi tahun, penulis sepertinya ditakdirkan untuk bertemu dengan cendekiawan-cendekiawan yang ahli dalam matematika, fisika, statistika dan teman-temannya. 2 kali penulis bekerja di Institut Teknologi. Berkali-kali menghadiri kuliah umum bertemakan bidang ilmu mereka, dan yaaa… makin sulit aja nangkepnya.

Tapi entah kenapa saya penasaran. Banget. Seandainya saya dulu masuk IPA, tentu saya akan masuk Teknik, gatau entah teknik apa. Guna menciptakan penemuan-penemuan terhits, YAKNI:

  1. Alat pick&fill warna. Jadi kita bisa mengambil warna apa saja dari mana saja, lalu mentitikan di ruang kosong seperti dinding dan dindingnya langsung terisi warna sebagaimana kita kehendaki. Jadi gausah ngecat-cat lagi. Khususnya untuk emak-emak strong yang pernah ngecat dapur sendiri! Kalo ada alat itu pasti hidup emak lebih mudah, kisanak!
  2. Wireless Reklame. Maksudnya, kayak pesan di billboard itu digantikan dengan hidden message (apasih,des!) dari tiang listrik ke tiang listrik. Bentuknya jadi titik2 yang tersambung dengan kabel fiktif (bodo amat lah,des!). Dan pesannya terbagi2 jadi kayak cerita. Cocok untuk di jalan supaya orang ga kebut2. Selain ramah tempat karena kalo ujan, reklamenya ga bakal roboh.. Orang juga penasaran sama apa isi pesannya. Mundur lagi kalo kelewat isi ceritanya.
  3. Yang terakhir sih dari insecured issue terhadap diri sendiri. Ingin membuat kloset lipat yang mudah dibawa kemana2. Tapi kalau ini absurd implementasinya. LUPAKAN.

Begitulah isi blog tidak penting kali ini. Coba, kalau kamu mau buat apa coba! jangan ambil dari barang-barangnya doraemon ya!

Komen and….. See ya!!

Salam lincah parah!


Fatherless

WhatsApp Image 2019-10-23 at 11.31.08.jpeg

Sebelumnya, daku ingin mengucapkan selamat kepada para menteri kita yang baru di Kabinet Indonesia Maju. Suprise banget ada beberapa nama muda yang familiar dalam ngebangun Indonesia seperti Nadiem Makariem, CEO Gojek dan Wisnu Utama. Tbh aku sangat antusias sekaligus penasaran, gebrakan apa yang akan mereka lakukan di masa kepemimpinannya. Harapanku sebagai rakyat kecil, semoga team ini bisa benar-benar menyuntikkan doktrin-doktrin baik hingga ke tingkat pelaksana. Sehingga apapun kebijakannya, ga sekadar jadi wacana. Continue reading


MEN(y)ENANGKAN

Apabila kita tertimpa masalah, orang yang tidak mengenal kita tidak akan bersimpati apalagi empati dengan kita. Orang yang mengenal kita sedikit, hanya akan menyuruh kita bersabar. Tapi orang yang betul-betul mengenal kita akan menjelaskan ‘konslet’nya kita tuh dimana, apa yang harus kita lakukan kedepannya untuk bangkit. Terkadang kata-kata nya sakit, tak jarang kita spontan defensif dengan denial terlebih dahulu. Tapi kalimat dari mereka itu terngiang-ngiang dan membuat kita sadar.

Filosofi obat penenang.

Aku pernah sekali menggunakan obat penenang berbentuk koyo kecil seperti chip di dada pasca operasi sesar. Nyaman, dan ngantuk sekali. Setelah efeknya habis, sangat terasa tajam perih bekas luka di perut bagian bawah. Sampai-sampai aku minta lagi ke dokternya. Rupanya itu bukan obat sembarangan. Kedua kalinya, aku operasi sesar anak kedua dengan turun kelas rumah sakit karena ruangan penuh. Obat itu mau tidak mau tidak ku dapatkan. Aku tahu, aku akan merasakan tajam seperti di silet-silet itu lagi tanpa obat penenang itu. Tapi ternyata tidak. Tubuhku bisa beradaptasi dengan rasa sakit. Tidak ada rasa kaget, karena aku membiasakan pedih itu detik demi detik. Dan sembuhnya ternyata jauh lebih cepat!

Aku sadar. Rupanya kekuatan obat itu ada di diri kita sendiri. Dan terkadang sakit dalam hidup kita memang harus kita jalani tanpa lewat jalan pintas. Masalah tak perlu dihindari, tak perlu dilampiaskan ke hal-hal negatif agar kekuatan dalam jiwa dan tubuh kita terbentuk secara alami.

“Orang jahat terlahir dari orang baik yang tersakiti” adalah frase bagi orang-orang baik agar tetap baik, jangan menyakiti. Bukan frase bagi yang jahat, untuk jadi pledoinya. Karena, bagi yang jahat, “menyakiti” itu bisa beragam. Kritikan yang membangun saja bisa diinterpretasikan sebagai “bully-an”. Serius. It based on true story. Berkali-kali orang lain memberitahu kita akan kesalahan kita, dari cara halus hingga cara preman. Tapi hidayah belum juga datang kepada orang tersebut. Sayangnya, dia merasa tidak salah, dan justru merasa dunia menjatuhkannya.

Ironisnya, tipikal orang ini justru mencari ketenangan diluar sana, penenang versi dia. Dia mencari orang yang menyabarkan. Menghibur. Menyenangkan hatinya. Tapi masalah dia yang sesungguhnya tidak akan pernah terpecahkan. Karena ia justru semakin jauh dari keluarga dan Tuhan. Aspek lingkaran terkecil yang tahu segala hal terdalam tentang dia dan bisa memberikan saran dan solusi terbaik. Ia jauh dari orang-orang yang mencintainya yang akan menangkapnya meskipun ia ditendang jatuh dari langit. Alhasil, ia hanya akan melakukan siklus kesalahan berulang. Lagi, dan lagi.

Obat memang terasa pahit, tetapi itu menyembuhkan.

Mengapa saat kita tertimpa masalah, manusia condong memilih pelampiasan yang salah yang akan masuk ke palung yang lebih dalam lagi? Karena obat penenang (dalam versi apapun itu) membuat segalanya mudah. Obat penenang itu membuatnya lupa sejenak. Meskipun ketika efeknya habis… (Misal ternyata ia ditipu rekannya yang seolah ingin menolong dsb) ia akan kaget, jauh lebih sakit dari seharusnya, serta sembuh JAUH.. LEBIH LAMA.

Seperti operasi sesar tadi. Justru orang-orang yang memperlihatkan kesalahan kita dengan tulus itu LANGKA ! Mereka ingin kita maju kedepan. Bukan sekadar ingin kita sabar. Mereka menyatakan yang sesungguhnya. Mereka ingin bangkit kita lebih abadi. Mereka versi sesungguhnya menenangkan, bukan sekadar menyenangkan.

Tetapi sungguh. Kita tidak bisa memaksakan kehendak, jika Allah belum membukakan pintu hati seseorang.

++++++++

Begitulah, seperti biasa.. aku menulis hal-hal yang mengganjal hati, baik itu dari frame of reference ataupun field of experience. Ambil baiknya, buruknya kasih kucing.

Salam lincah!

 


Kian Bongkar Aib!! #KeresahanEmakEmak

Pagi, netizen! Kali ini gue bakal cerita tentang anak sulung gue, Kian. Alhamdulillah sangat. Seiring berkembangnya waktu, kita orangtuanya ketar-ketir dia belum bisa banyak kosa-kata waktu setahun-dua tahun. Eh, tau-tau langsung bisa bahasa indonesia, bahasa inggris, ga pake cadel-cadelan. Sekarang ini, mulai keliatan bakat kayak emaknya yee… Yang jujur dan mempesone.

Iya, gue sih menanamkan pentingnya jujur ke kian. Hal itu tercermin kalau dia berlaku salah, akui dan minta maaf. Dan begitupun juga kalau dia yang gantian negor gue. Tanpa rasa gengsi, orangtua juga harus minta maaf dong. One rule to rule them all lah kalau kata penguasa mordor (dengan gubahan). Tapi nih.. Jujurnya si kakak kian ini menyatu dengan keceriwisannya yang sejalan berkembang pesat sedemikian sehingga, terkadang dia suka bongkar-bongkar aib di depan umum. *tutup muka*

Jadi semua berawal ketika dia jalan-jalan sama kakeknya ke pasar. Namanya anak-anak kan kalau dibawa jalan-jalan trus liat mainan pastilah ada keinginan. Ributlah dia, tapi gak pernah sampai tantrum pinternya ini anak. Cuman.. karena suka ga dibeliin, dan  memang ga dibiasain semua yang diinginkan harus dibeli, maka kita suka kasih pernyataan, “Bagus ya Nak. Tapi ini mahal, kita tabung dulu ya..” Continue reading


Second Puberty? Bullcrap!

Hi, people. Welcome again to my blog. Really excited about this post because it’s something that related to all of us whether man or woman. Warning, bahasa disini agak lebih emosional. Jadi bukan akademik, sama sekali bukan. Jadi kalau yang gak suka, please close your tab.

Ok, let’s straight to the point! Continue reading


Kesetaraan Gender? You wish!

Tempo lalu sebuah iklan memanfaatkan sosial media, lebih tepatnya akun gosip untuk melempar isu kesetaraan gender. Sedari awal aku sudah menduga, itu adalah S3 marketingnya sebuah produk dapur. Hanya saja saya terus terang sudah malas membaca tentang kesetaraan gender. Kenapa? Karena… Continue reading